Sabtu, 24 Maret 2012

DISKUSI INTERAKTIF "MENYIKAPI PUTUSAN M.K. TERKAIT STATUS ANAK DI LUAR NIKAH"


RESUME  DISKUSI  INTERAKTIF
“MENYIKAPI  PUTUSAN M.K.  tentang  STATUS ANAK DI LUAR NIKAH”
Yayasan Keluarga SeMuT, 17 Maret 2012


Pembicara:
  • Dr. H. Iman Lukqmanul Hakim, SH, MHu
  • Dra. Hj. Raudhatul Munawaroh
  • Ust. Abu Ubaidah, MSI


Pengantar / Moderator (Yani Marwoto):
Kasus Machicha Mochtar yang menggugat hak anaknya atas statusnya sebagai seorang anak yang mempunyai ayah sah.
Oleh MK permohonan gugatannya dikabulkan, karena mempunyai bukti foto pernikahannya.

Pembicara 1:
Dr. H. Iman Lukqmanul Hakim, SH, MHum

Putusan MK tersebut mengguncang tata hukum yang ada di Indonesia, sebab secara langsung menabrak aturan2 yg selama ini berlaku (kompilasi hukum Islam untuk muslim & KUHPerdata untuk  non muslim).

Kompilasi Hukum Islam: anak sah adalah, anak yg lahir dar pernikahan sah dan anak yg lahir di luar pernikahan, hanya memiliki hubungan dengan ibunya.

KUHPerdata: anak sah adalah,  anak yg lahir dar pernikahan sah dan anak yg lahir di luar pernikahan, hanya memiliki hubungan dengan ibunya secara perdata.

Putusan MK merontokkan hukum2 yg telah ada.

Hakim tdk dpt memberikan kepuasan kpd semua orang, hanya mampu memuaskan segolongan orang & membuat golongan yang lain tdk puas.

Pertimbangan Putusan MK lebih memberikan perlindungan kepada anak.

  • Dari sisi filosofis, anak terlahir pasti mempunyai bapak dan ibu
  • Dari sisi biologis, anak lahir karena ada pertemuan sperma dan ovum
  • Dari sisi sosiologi, kesalahan masyarakat yang sering memberikan stigma sbgi anak haram, ttpi masyarakat tdk dpt disalahkan juga, karena memang stigma yg ada tdk membenarkan seorang anak terlahir tanpa mempunyai ayah.


Azas: Patokan, hakim tidak boleh memberikan putusan lebih / di luar dari yg diminta, sehingga putusan MK tersebut dirasa tidak mendetail memberikan definisi anak yang terlahir di luar nikah.

Dalam UU Hukum Perdata, anak di luar kawin:
UU No 280 UU ttg anak yang terlahir dari hubungan antara laki2 & perempuan yang masing2 tdk terikat perkawinan dan di antara mereka tidak ada halangan untuk menikah (anak di luar kawin yg diakui).  Jika anak diluar kawin yang tidak diakui, adalah anak hasil perzinahan atau anak sumbang, anak hasil pernikahan yang tidak boleh (misal karena hubungan sedarah).

UU No 279, ttg pembatalkan perkawinan. Jika ternyata perkawinan terjadi bukan antara gadis dan jaka.
Zina, adalah jika perkawinan terjadi antara seorang lajang dengan seseorang yang sudah berstatus berkeluarga, sehingga dapat perkawinan tersebut dapat dibatalkan oleh pihak manapun yang merasa dirugikan. 

Anak juga dapat dianggap sah, jika si ayah tidak tahu bahwa anak tersebut merupakan hasil zinah si istri yang telah terikat dalam sebuah perkawinan.

Setelah pernikahan, sebelum hari yg ke 180 anak telah lahir, maka si ayah boleh mengikari itu sebagai anaknya, kecuali jika sebelum pernikahan dilakukan dia telah mengetahui bahwa calon istrinya telah hamil.
Putusan MK tersebut juga memberikan perlindungan dari sisi perempuan, sebab secara hukum si suami tetap wajib memberikan nafkah bagi istri dan anak.

Jangan sampai putusan tsb dibaca oleh masyarakat sebagai melegalkan hubungan seks di luar nikah!! Tetapi dibaca sebagai perlindungan bagi perempuan dan anak.
Anak di luar perkawinan mempunyai hubungan perdata dengan ayah dan ibunya, jika dapat dibuktikan melalui ilmu pengetahuan (test DNA).

Pembicara 2:
Dra. Hj. Raudhatul Munawaroh

Dari segi psikologis, di luar nikah berarti merupakan hasil zinah atau kumpul kebo.  Lain jika hasil nikah sirri, karena syah menurut agama, hanya belum tercatat di KUA.

Jadi, anak hasil nikah sirri tidak perlu minder karena statusnya hanya karena tidak tercatat status pernikahan orangtuanya.  Permasalahan jika anak masuk sekolah, harus mempunyai Akte Kelahiran.

Hasil penelitian di Kesehatan Reproduksi Remaja (Kespro), banyak terjadi anak hasil zinah para remaja.  Keluarga merasa malu sekali atas perbuatan anaknya, yang secara psikologis menyebabkan si remaja putri yang terpaksa mempunyai anak tersebut mempunyai dampak sangat galau (sebab biasanya si remaja putra tidak mau bertanggungjawab).

Dalam konsep Islam, ada 4 tipe anak:
1. Tipe Musuh (aduwwun), QS. At Taghbun (64): 14 
    Anak normal saja dapat menjadi musuh bagi ortunya, apalagi anak hasil zinah.
    Jika tidak pernah diajarkan mendekatkan diri dengan Allah, tidak pernah sholat, tidak pernah diajarkan 
    hal2 yang baik, akan menjadi anak dengan tipe musuh.  Apalagi jika anak tersebut hasil zinah, akan
    menjadi musuh yang sebenar2nya dari ortu.

2. Tipe Fitnah (At Taghabun (64): 15
    Anak ini akan menjatuhkan nama baik ortu. Apaalagi jika merupakan anak hasil zinah.

3. Tipe Perhiasan Dunia (Zuyyinuddunia), QS Al Kahfi (18): 46
    Tidak akan berkembang baik, jika merupakan anak hasil zinah, karena dicap sebagai anak haram.

4. Tipe Qurrota a’yyun, Qs Al Furqon (25): 74  
    Dalam masyarakat, anak lebih diterima jika mempunyai “bin”, daripada “binti”,  Jadi jika terjadi si remaja
    putri hamil, maka akan segera dinikahkan, walaupun hanya sekedar untuk mendapatkan status “bin”.

FATWA MUI (mb Yani):
  1. Anak hasil zina tidak mempunyai hubungan nasab, wali nikah, waris dan nafkah dengan lelaki yang menyebabkan kelahirannya.
  2. Anak hasil zina hanya mempunyai hubungan nasab, waris dan nafkah dengan ibunya  dan keluarga ibunyanya.
  3. Anak hasil zina tidak menanggung dosa perzinahan yang dilakukan oleh orang yang mengakibatkan kelahirannya.
  4. Pezina dikenakan hukuman had oleh pihak yang berwenang, untuk kepentingan menjaga keturunan yang sah.
  5. Pemerintah berwenang menjatuhkan hukuman ta’zir, lelaki pezina yang mengakibatkan lahirnya anak dengan mewajibkannya untuk
    1. Mencukupi kebutuhan hidup anak tersebut
    2.  Memberikan harta setelah dia meninggal, melalui wasiat wajibah.
  6. Hukuman sebagaimana dimaksud no.5 bertujuan melindungi anak, bukan untuk mensahkan hubungan nasab antara anak tersebut dengan lelaki yang mengakibatkan kelahirannya.


TANGGAPAN PESERTA:
HENDRA (
Bukan hanya kasus pengaduan Machicha, tetapi banyak kasus lain yang seupa. Juga bukan hanya menyangkut muslim.
Dalam kasus Machicha, KPAI tidak dapat menghadirkan pak Moerdiono, walaupun sudah 3x pemanggilan.  Bagaimana dapat dilakukan test DNA??

PERTANYAAN2:

Mb Yani: “Bagaimana jika si laki2 tidak mau melakukan test DNA? Dan siapa yang harus menanggung biaya test DNA tersebut? Pihak laki2, perempuan, atau negara?”

Mz Gatot: “Bagaimana untuk anak2 luar nikah yang berada di pedesaan? Kasus, anak hasil zinah seorang perempuan terbelakang. Si anak dipelihara oleh kakak si perempuan tersebut.  Bagaimana status anak itu??

Bu Tati (Muslimat Center): “Mengapa Allah memberikan hukum yg begitu jelas, sbb ada hikmah2 di balik hukum tsb, untuk menghindari perzinahan. Tinggal tergantung dari individu, apakah dapat berlaku adil.”

(Muslimat Centre): “Apakah si laki2 tidak dapat diberi sanksi jika tidak mau melakukan test DNA atau dipaksa untuk melakukan test DNA? ”

Bu Kokom: “Pakai hukum Islam saja, sebab hingga kapanpun tidak akan pernah ada titik temunya.  Lebih baik lakukan kafarat, bagi pezinah. Efek UU perkawinan, menyebabkan maraknya selingkuh.”

Kang Deden: “Tanggapan MUI terhadap putusan MK dinilai agak aneh. Di satu sisi menyatakan tidak ada hukum perdatanya, tetapi di sisi lain dia mengakomodir kewajian seorang bapak terhadap anak2nya. Apakah MUI melakukan kompromi terhadap masalah2 yang ada?”

Pak Hendra: “dari segi advokasi ingin meminta teman2 hukum, apakah bisa hakim menggali hukum2 baru yang ada di masyarakat?

Bu Annis: “Mengapa bukan nikah sirri saja yang disorot oleh MK? Putusan MK tersebut, akan menyebabkan waris kepada si anak luar nikah.  Menyebabkan si anak sah akan terkurangi hak warisnya. Putusan MK ini membuka peluang bagi orang2 yang mempunyai niat “nakal””
  
TANGGAPAN:

Bu Munawaroh: anak tersebut adalah hasil zinah, karena si ibu terbelakang, sedang si ayah telah terikat pernikahan.  Berarti perempuan tersebut dapat melakukan pernikahan?? Berarti si laki2 memaksa si perempuan.

Semangat melegalkan anak tersebut, jangan sampai menjadi sebuah perlindungan  bagi pelaku zinah!
Betapa Allah telah mengingatkan dalam At Tahrim (66), ayat 6: “lindungilah diri dan keluarga dari api neraka.

Pak Iman: Anak dari hasil perzinahan, status anak dapat disahkan dalam konteks hukum nasional, sbb peraturannya ada dalam UU Hukum Perdata. Bapak dan ibunya dapat menikah secara resmi terlebih dahulu, baru si anak dapat status sah dari negara.

Perlindungan kaum perempuan,

Secara teori hukum akan berlaku jika memenuhi syarat secara filosofis, yuridis dan sosiologis.
Putusan MK tersebut, perlu dikaji lagi dan hasilnya diajukan ke pemerintah dan DPR.  Sebab putusan tersebut akan membuat pemerintah merubah putusan2 yang lain.

Putusan tersebut jangan dibaca sebagai upaya melegalisasikan perzinahan.

Tugas para da’i untuk lebih mendorong supaya perzinahan tidak ada.

Menanggapi usul Hendra, pada dasarnya boleh saja, sebab hakim tidak berhak menolaknya.

Hukum nasional, anak zina adalah anak luar kawin yang tidak diakui, sedang jika anak luar kawin tersebut merupakan hasil perbuatan yang  dilakukan oleh lajang dan gadis, maka anak tersebut bukan anak zina.

Hubungan keperdataan baru berlaku, jika ada pengakuan dari bapaknya dan si bapak berhak untuk menyangkalnya.

Ust Abu: Mazhab Hambali, Nasab anak dapat digantungkan kepada seorang laki2 yang bukan merupakan bapak biologisnya.

Status anak menurut agama:
a.      Anak dianggap tidak sah, jika ortu menikah
b.      Anak dianggap sah, jika ortu menikah, tetapi mereka tidak boleh berjima’ sebelum anak lahir.
c.       Anak sah, jika ortu menikah setelah anak lahir.

Untuk masyarakat muslim yang berzina, terapkanlah saja hukum Islam.
Fatwa MUI tidak serta merta seperti di luar negeri, seringkali fatwa MUI dipengaruhi faktor politik di Indonesia. Ex, dalam kitab fiqh dinyatakan seorang laki muslim boleh menikahi perempuan yahudi / ahli kitab.  Tetapi dalam fatwa MUI, tidak diperbolehkan.

KESIMPULAN:
Semoga Diskusi ini menjadi langkah awal untuk melakukan tindakan konkret...


Binabu, 17 Maret 2012
Yayasan Keluarga SeMuT




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

voa-islam.com Headline Animator