Jumat, 19 Agustus 2011

TIPS MENGATASI ANAK YANG SULIT DIATUR


 Dalam qur’an dan hadits diterangkan tentang Kedudukan Anak :

      Anak Sebagai Anugerah Allah
            Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang.” (QS. Ali Imran [3] : 14)

      Anak Sebagai Ujian
            “Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (QS. at-Taghabun [64] : 15)  - Sesungguhnya anak itu bisa menjadi penyebab kikir, pengecut, bodoh, dan sedih.” (HR. Thabrani)


      Anak Sebagai Amanah
            “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…” (QS. At-Tahrim [6] : 6) - Setiap anak itu dilahirkan dalam keadaan fitrah, namun orangtuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi (HR. Muslim)

      Anak Sebagai Sarana Beramal Shalih
            Apabila anak Adam meninggal, maka terputuslah amalnya kecuali tiga hal: amal jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak shalih yang berdoa untuknya.” (HR. Muslim)
            Barangsiapa menyeru kepada petunjuk maka dia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun, dan barangsiapa yang menyeru kepada kesesatan maka dia mendapatkan dosa seperti dosa orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa-dosa mereka sedikit pun.” (HR. Muslim)

      Anak Sebagai Pewaris Peradaban
            Apabila umatku sudah mengagungkan dunia, maka akan tercabut dari mereka kehebatan Islam. Dan apabila mereka meninggalkan amar ma’ruf nahi mungkar, maka mereka akan terhalang dari keberkahan wahyu. Dan apabila umatku sudah saling menghina, maka jatuhlah mereka dari pandangan Allah. (HR. Hakim, Tirmidzi)

Anak adalah amanah Allah yang harus dijaga, dirawat dan dididik dengan sebaik-baiknya. Pada dasarnya tugas mendidik anak merupakan tanggungjawab ayah, sebagaimana firman Allah:
                                   
      Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.“ - QS. Luqman (31) ayat 13.

      Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya'kub. (Ibrahim berkata):"Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam". (QS. al-Baqarah[2]:132)

      Sesungguhnya Allah akan meminta pertanggungjawaban setiap penggembala atas apa yang dia gembalakan. Apakah ia telah memelihara ataukah menghilangkan. Dan Allah akan meminta pertanggungjawaban seseorang tentang keluarganya.” [HR. Ibnu Hibban]

       “Seorang ayah yang mendidik anak-anaknya adalah lebih baik daripada bersedekah sebesar 1 sa’ di jalan Allah.” (HR. Tirmidzi)

Sedangkan tanggungjawab seorang ibu, diterangkan oleh Allah sebagai berikut:
Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan pernyusuan. (QS. al-Baqarah[2]:233).

Banyak metode yang bisa digunakan untuk mendidik anak, antara lain:
      Keteladanan: al-Ahzab 21
      Kisah-Kisah: al-Qashash
      Nasehat: "Hai kaumku sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu amanat Tuhanku, dan aku telah memberi nasehat kepadamu, tetapi kamu tidak menyukai orang-orang yang memberi nasehat". (QS. Al-A’raf:79)
      Pembiasaan: Khamr à QS. An Nahl 67 – Al Baqarah 219 – An Nisa 43 – Al Maidah 90
      Hukuman & Ganjaran: “Jika mereka tidak patuh, niscaya Allah akan mengazab mereka denga azab yang pedih di dunia dan di akhirat” (QS. At Taubah 74)
      Diskusi (mujadalah): “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik” (QS. An Nahl 125)
      …dll…dsb…

Jika anak mengalami masalah dalam masa pertumbuhannya, semisal sulit diatur, maka orangtua wajib mencari asal muasal ataupun penyebabnya, karena harus diingat kembali bahwa semua anak pada dasarnya terlahir fitrah, orangtuanyalah yang menjadikannya seorang nasrani, yahudi ataupun majusi.  Bak kertas putih tanpa noda, orangtua menorehkan titik-titik, garis lurus-lengkung dan mewarnai kertas putih tersebut, menjadi sebuah lukisan mahakarya ayah-bunda.

Banyak faktor penyebab anak sulit diatur, antara lain:
·         Pola didik yang salah, terutama bagi orangtua yang sama-sama bekerja sehingga anak hanya dititipkan ke pembantu yang tidak jelas pendidikannya, ataupun anak tersebut adalah anak tunggal yang selalu dimanja dan dipenuhi segala kebutuhannya tanpa dia perlu bersusah payah untuk mendapatkan keinginannya tersebut.
·         Kurangnya penyaluran energi dan kreatifitas si anak, terutama untuk anak-anak hiperaktif dan anak-anak yang mempunyai tingkat kreatifitas tinggi, dimana mereka sulit untuk diam dan selalu mencari-cari kesibukan.
·         Kurangnya perhatian dari orangtua. Bagi orangtua yang sama-sama bekerja, seringkali sulit mempunyai waktu untuk berkumpul dengan anak-anaknya. Mereka berangkat kerja ketika anak-anaknya masih tertidur & kembali ke rumah di saat anak-anaknya telah lelap.
·         Makanan yang tidak halal & thoyib (baik). Terdapat beberapa jenis makanan yang tidak boleh dikonsumsi oleh anak-anak tertentu, semisal anak hiperaktif tidak boleh diberi terlalu banyak makanan mengandung gula karena akan membangkitkan keagresifan mereka.

TIPS untuk Mengatasi Anak Sulit Diatur:
1.      Cari faktor penyebabnya (kesalahan pola didik, kurang penyaluran energi, kurang perhatian orangtua atau karena faktor makanan yang dikonsumsi)
2.      Buat peraturan tertulis yang disetujui oleh seluruh anggota keluarga (ayah-ibu dan anak)
3.      Tegas dan konsisten dengan peraturan yang telah dibuat tersebut.
4.      Beri hadiah jika anak berperilaku sesuai dengan peraturan yang telah disepakati bersama dan hukuman bagi anak yang melanggarnya (punish & reward).
5.      Hukuman diberikan dalam jangka waktu tertentu hingga anak meminta maaf dan berjanji untuk tidak mengulangi perbuatannya kembali (dituntut ketegasan orangtua untuk tidak mempedulikan rengekan si anak)
6.      Salurkan kreatifitas dan energi bagi anak yang kreatif ataupun yang cenderung hiperaktif, semisal diikutkan kursus kreatifitas atau melakukan kegiatan olahraga yang digemarinya.
7.      Berikan waktu yang berkualitas, terutama bagi para orangtua yang bekerja. Temani mereka bermain di waktu luang ayah-bunda.
8.      Diet makanan, bagi anak hiperaktif
             Pastikan makanan yang dikonsumsi anak adalah makanan yang halal 
             dan thoyib (baik)


(dikutip dari materi Dra.Hj. Emma Pawitasari-INSIST)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

voa-islam.com Headline Animator