Rabu, 08 Februari 2012

"SELINGKUH BUTUH"



Entah apa yang ada dalam pikirannya… Entah jin apa yang sedang bersarang di relung hatinya… Tapi segala tindak tanduknya akhir-akhir ini cukup membuatku menggeleng-gelengkan kepala.  Segala sepak terjang dan perubahan yang mencolok dari dirinya membuatku tercengang-cengang…

Sebegitu berpengaruhkah orang yang akhir-akhir ini bersemayam di hatinya? Sosok yang siang malam selalu menghantui pikirannya dan senantiasa meriuhkan hari-harinya dengan denting “ping” di BBnya?

Siapakah mahluk misterius itu? Yang mampu menurunkan berat badan sobatku hingga  5 kg hanya dalam tempo sebulan? Yang membuat sobatku tak bernafsu makan dan snantiasa terjaga di kala malam?
Setiap kali kami bertemu… selalu sosok itu yang diceritakannya…

--------------------------------------------   

“Lihat mbak, kemaren aku dikasih gelang. Bagus ya?”, pamernya suatu hari.
“Ah…gelang jelek begini, apa bagusnya?”,  ledekku sambil melihat sekilas.

 “Aku suka modelnya. Lucu.”, kilahnya sambil memutar-mutar gelang yang melingkar di tangan kirinya.
“Ini gelang mahal lho mbak,  harganya puluhan jiti!!”, lanjutnya pula sambil tersenyum bangga.

“Ckckckck…”, aku terpana dan hanya mampu berdecak kagum… Bukan kagum akan barang yang dipamerkannya itu, tetapi kagum pada kenekatannya menerima barang dari seorang laki-laki yang jelas-jelas bukan siapa-siapanya!

“Yah, semahal-mahalnya pemberian seorang lelaki yang bukan bapak apalagi suami kita, pasti ada maksudnya. Hati-hati lho!!”, pesanku. Kutatap lekat matanya, kugenggam erat jemarinya.
--------------------------------------------   
Pagi itu ia terlihat semakin ceria… Penampilannya “super sekali” (mengutip pak Mario Teguh  yang super).  Dengan gaun biru muda dan asesoris senada menambah cerah wajahnya yang berulaskan bedak agak tebal  dan  makeup ala kadar.

“Wah…sepertinya ada yang beda hari ini..”, sapaku sambil senyum dikulum.
“Ah, apanya yang beda? Biasa aja kaleee..”, timpalnya.
“Iyaaa…beneer…ada yang berpenampilan baru…agak-agak gimannaaaa githuuu…”, ledekku.
“Maca ciiiih….??”, balasnya cepat.
“Ehm… ehm…ada angin apa nih?? Lagi berbunga-bunga ya??”, tanyaku seraya duduk di sampingnya.

Kuperhatikan dari ujung kepala hingga mata kaki. Gilla bener nih anak, batinku. Tumben-tumbennya dia pake sepatu hak tinggi dan berdandan pula. Padahal hari ini kan kita hanya ketemuan biasa… Obral obrol ngalor ngidul dan gak janjian ketemu siapa-siapa. 

“Hehehe… ini dandan karena lagi gundah gulana mbak…”, ujarnya.
“….Oooo…. ada yang lagi gundala eh gundah… sering-sering ajah… ”, ledekku.

Itulah sepotong episode kehidupan seorang anak manusia, yang sedang memasuki masa puber keduanya.
--------------------------------------------
Aku jadi teringat kejadian yang sempat  kualami hampir tiga tahun yang lalu, serupa tapi tak sama. Jadi aku sangat maklum dan mafhum sekali dengan segala tingkah polahnya akhir-akhir ini. 
Di saat usia seseorang memasuki kepala empat, di saat ekonomi sudah mapan, di saat penampilan juga sudah menemukan kesempurnaan dan di saat status pernikahan sudah menuju ambang kejenuhan, akan adaaaa saja badai gelombang yang siap menghadang.

Bisa dalam bentuk godaan harta, tahta ataupun wanita… Ini jamak adanya dan sudah jadi rahasia umum pastinya.  Life begin at 40th, kata orang-orang.  Puber kedua dapat menyerang siapa saja, dari kalangan mana saja.

Lihatlah kasus-kasus politikus yang berseliweran di layar kaca akhir-akhir ini, rata-rata tokoh utamanya berusia sekitar empatpuluhan kaan?
--------------------------------------------
Kembali ke cerita sobatku itu…

Aku mengenalnya sekitar lima tahun yang lalu.  Berasal dari keluarga yang cukup berada, suami yang berusia jauuh di atasnya dan anak-anak yang sudah beranjak remaja karena dia menikah di usia cukup muda, duapuluh tahun! 

Ketika segala kemapanan hidup sudah berada dalam genggaman, ada saja keisengan yang dilakukannya, apalagi ditunjang fasilitas yang dimiliki. 


Tahun lalu ia bercerita dengan berbunga-bunga soal hubungan isengnya dengan kakak kelas yang sempat naksir dia jaman sma, tapi berakhir dengan  pemutusan sepihak tanpa penjelasan oleh sang pria.

“Baguslah…”, komen ku kala itu, sambil sedikit menasehati bahwa lebih baik hubungan “terlarang” itu tidak diteruskan.
“Tapi…aku kangen dengan puisi-puisi romantisnya yang setiap pagi menyapa hari-hariku mbak…”, kilahnya.
“Aaah… minta aja dibikinin puisi romantis ama suamimu!”, timpalku
“Yaaaa… suamiku mah gak ada romantis-romantisnya mbak…”, ujarnya pula.
“Yah sudah, terimalah suamimu apa adanya… syukuri segala kekurangan dan kelebihan yang dimilikinya, Toh kamu sudah memilih laki-laki itu sebagai suamimu”, nasehatku lagi.

Kupikir  nasehatku itu cukup menggugah hatinya, ternyata beberapa bulan kemudian….
--------------------------------------------
 “Mbak… sekarang aku dah gak sedih lagi, karena sudah nemu penggantinya”, kicaunya suatu hari

Alamaaak…. Sia-sialah mulutku berbusa-busa menasehatinya panjang lebar kemaren dulu.

“Yah…emang kepribadianmu begitu… Suka iseng nggangguin laki-laki!”, ujarku tanpa tedeng aling-aling.
“Hehehe… kok tahu???”, tanyanya.
“Tapi aku kan gak pake hati mbak, seneng aja rasanya ada yang merhatiin dan bisa nggodain”, timpalnya lagi masih cengengesan.
“Terserah kamu aja deh… tapi kalo ada apa-apa tanggung resikonya yaa…”, pesanku.
--------------------------------------------
Tiba-tiba tadi siang dia curhat lagi padaku, 

“Mbak… sebenernya aku bisa aja dan pengen banget mengakhiri hubungan ajaibku dengan yang sekarang, tapi kok agak susah ya mbak? Gak seperti yang kemaren-kemaren itu…”,
“Gimana gak susah? Lha kamu sendiri yang emang sengaja bikin susah dan ribet”, komenku.
“Emang sih, tapi kali ini aku dah bertekad untuk segera mengakhirinya mbak… Tolongin aku yaaa…”, pintanya memelas.
“Apa yang bisa kubantu, cah ayu?”, tanyaku menggoda seraya menatap matanya yang terlihat gelisah.
“Kemaren kan mbak menyarankan ku untuk segera menyelesaikan segala keruwetan ini secara baik-baik.  Sekarang aku mau minta tolong, temenin aku untuk menemuinya ya mbak …”, pintanya lagi.
“Oke… oke…baiklah, tapi aku jangan dijadikan kambing congek yaaa…”, ledekku.
“Hehehe….justru aku minta mbak nemenin, tapi  duduknya jauh-jauh dari kami, dilarang nguping”, sambernya.

“Halah… Muales buanget deh….”, batinku…
--------------------------------------------
Nih orang niat apa gak sih mengakhiri hubungan terlarangnya itu? Karena aku yakin bahwa dia amat sangat menikmati  keisengannya  dan sepertinya si laki-laki juga sudah terlanjur jatuh hati tanpa ingat anak-istrinya lagi. Padahal sobatku ini tak mungkinlah meninggalkan suami dan anak-anaknya.

“Ya udah gini aja... Mohon maaf kali ini aku gak bisa bantu, karena aku sudah kasih warning jauh-jauh hari sebelum keruwetan ini terjadi.  Silakan kamu selesaikan sendiri!  Kalo gak bisa mutusin tuh laki-laki, yah kamu terus terang aja ke suamimu, ceritakan kalo ada seseorang yang mengejar-ngejar kamu, padahal dia sudah tahu statusmu. Smoga suamimu tidak marah dan mau membantu kamu menyelesaikan masalahmu ini. Dan jangan lupa, perbanyaklah istighfar, bertobatlah sebelum karma mengenaimu karena keisenganmu itu.  Satu hal lagi, inget, kamu punya anak-anak, gak malu apa kalau mereka tahu ulah ibunya?”, uraiku panjang lebar.

Kulihat matanya berkaca-kaca, wajah ayunya semakin kusut saja….
Terbayang olehku reaksi suaminya jika sobatku ini berterus terang….. Hiiii…. Seandainya aku yang mengalami…. Audzubillahi min dzalik…   
--------------------------------------------
Sob…. Siapapun kamu, apapun statusmu, berapapun umurmu…
Ingatlah firman Allah swt  “walaa taqrobbuuz zinaa, innahuu kaana faahisyatan wasaa a sabiilan, janganlah kamu mendekati zina, (zina) itu sungguh perbuatan keji dan suatu jalan yang buruk!!”    (QS Al Isra’ (17): 32)


Mendekati aja gak boleh, apalagi melakukannya yaa …bro..sist… !!!

Seneng dan kagum dengan seseorang sah-sah aja.  Bosen dengan rutinitas dan pasangan kita, wajar adanya.  Namun berhubungan dengan laki-laki atau perempuan yang bukan muhrim, apalagi sampai pake rayuan gombal… Itulah saatnya para setan dan pasukannya mulai bekerja…!!!
--------------------------------------------
m.a.k.a…..
WASPADALAH!!! WASPADALAH!!!
­--------------------------------------------
 AsBar, 7/7/12 (17.17.17)

2 komentar:

  1. baca juga artikel "CLBK...cilukba yang berbahahaya..." yaa.. tq

    BalasHapus
  2. Ternyata usia 40 an cukup rawan ya, yang penting jangan sampan kebablasan ya .... Kebablasan pengen ketemuan, kebablasan hatinya, kebablasan bbm an, kebablasan sok perhatian sama yang di rumah padahal hati ada di awang2 ..... Hmmmm kebablasan sakit , karena cari penyakit

    BalasHapus

voa-islam.com Headline Animator